Let The Pictures of Merapi Talks!

Berikut adalah beberapa dokumentasi “Merapi Project” kami, semoga dapat memotivasi banyak anak muda untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih dan bergabung menjadi Volunteer bersama-sama menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat.

Indonesian Youth Volunteer.. We care, We share! 🙂

 

Volunteer juga belajar dulu 🙂

This slideshow requires JavaScript.

Volunteer Story: Devi Yanti Rahayu Sitorus

 

 

KINAH Bali REJO,, 26-30 jan 2010

5 hari yang selalu menjadi kenangan tak terlupakan dalam hidupku. Here is the story………… Diawali dengan bertolak dari semarang dengan menaiki sebuah mobil yang dikemudi oleh Pak Yan. Sepanjang perjalanan yang lancar-lancar saja, namun mendadak macet di jalan magelang-jogja. Ternyata oh ternyata diakibatkan oleh batu-batu besar yang disebabkan oleh lahar dingin. Sempat aku bertanya kok bisa batu-batu segede ini sampai di sini??apakah sebegitu dahsyatnya lahar dingin yang hanya bisa aku lihat di TV. Akhirnya setelah menempuh beberapa jam, kami pun sampai di rumah Pak Agus (koordinator posko Al-qodir), kemudian tidak lama kemudian kami dijemput oleh mas Heri untuk menuju ke Posko.

 

Perjalanan yang gelap dan menghabiskan waktu sekitar 30 menit, tim kami yang terdiri dari Ana, Debby, Ihksan, Melisa, Debby, dan Galih akhirnya sampai dengan selamat di Posko. Bertemu dengan pak Agus, mas Anam, Pandu, Bangka,dan beberapa warga pengungsi.

 

Cuaca malam hari  yang dingin di Posko tersebut telah saya siasati dengan membawa beberapa peralatan perang (baca: minyak kayu putih, celana panjang, dan kaos kaki, dan jaket).keesokan paginya kami berjalan-jalan di sekitar posko, membeli makanan untuk sarapan. Saya terpesona melihat Gunung Merapi (walaupun hanya dari jauh), saya melihat anak-anak kecil di sekitar posko tersebut. Kami pun mengajak mereka (baca: anak-anak) bermain di Posko, main petak umpet, dan beberapa permainan tradisional lainnya. (senang sekali rasanya, sambil nostalgia masa-masa kecil dulu, apalagi melihat senyum dan tertawa mereka, walaupun batin kecil saya kadang sedih bercampur bahagia, karena ada dari mereka tidak mempunyai sanak saudara karena erupsi merapi bulan November lalu).

 

Siang harinya kami berangkat ke daerah Gunung merapi, saya sungguh terperana dan terkejut melihat situasi menuju daerah tersebut. Pohon-pohon yang hangus, rumah-rumah yang hancur.  Namun kata teman saya kondisi ini masih mending jika dibandingkan beberapa hari sesudah bencana erupsi yang luluh lantak. Tentu saja saya tidak bisa membayangkan betapa dahsyatnya kondisi yang dahulu.(sudahlah..,, mungkin tidak ada habis-habisnya pertanyaan dalam hati saya yang muncul).

 

Kinahrejo merupakan salah  satu desa yang paling dekat dengan merapi, dan desa tersebut “habis” oleh erupsi merapi, saya hanya bisa kembali tertegun dan hanya bisa terpana dengan apa yang saya lihat. Baiklah.. sepertinya udah cukup bagi saya untuk menceritakan hal-hal tadi ^___^.

 

Sesuai dengan misi kedatangan kami ke desa tersebut yaitu mengajar bahasa inggris untuk calon-calon guide yang berasal dari penduduk lokal desa Kinahrejo. Ada 3 orang remaja, mereka adalah mbak Mur, Patria dan Sigit, kami saling memperkenalkan diri satu dengan yang lain. Saya dan Melisa memegang Mbah Mur, dia seorang pemudi di desa Kinahrejo, dan beberapa orang menjadikannya sebagai kebanggaan desa Kinahrejo. Yah  saya cukup sependapat, melihat rasa ingin tahunya, dan motivasinya untuk mau belajar. Anaknya cukup antusias dan ramah, dia bercerita tentang hari pada saat erupsi tersebut yang hiruk pikuk.Lokasi rumahnya dekat dengan Mbah Maridjan, namun sayang Mbah Maridjan tidak  selamat dari bencana tersebut, karena tugas dia sebagai abdi Keraton untuk menjaga Gunung Merapi  tersebut sampai akhir hayatnya.Mbak Mur cukup pandai dalam berbahasa Inggris, di mana dia bisa menjawab dan nyambung dengan obrolan yang kami utarakan dalam bahasa inggris, umurnya 18 belasan tahun dan pendidikannya sampai jenjang SMP, dia tidak melanjutkannya karena alasan keterbatasan biaya (saya terenyuh mendengarnya, membayangkan beberapa teman-teman saya (termasuk saya, tapi itu “dulu”)  yang menyia-nyiakan kesempatan kuliah dengan bermalas-malasan. Mbak Mur, dia sehari-harinya menjaga toko souvenir kaos sablon dan beberapa jenis dagangan lainnnya, dia mulai menjaga warung dari pagi sampai sore. walaupun dia terlihat seperti lelah, namun lelah tidak menyurutkannya untuk mau belajar.

 

Dua orang yang lain yaitu Partia, gadis yang kelihatannya pendiam ini ternyata asik juga diajak ngomong kalu sudah kenal dengannya. Usianya yang lebih muda, dan merupakan adik dari mbak Mur, bahasa Inggrisnya juga cukup bagus, walaupun masih susah untuk berbicara dan dia cukup menangkap apa yang kami obrolkan, dan yang lain bernama Sigit.Kami bermain games “two in One” dan duo patria dan mbak Mur berhasil memenangkan games ini.

Kami juga tidak lupa melihat kesenian Jahtilan, salah satu kesenian tradisonal yaitu berupa tarian dengan menggunakan boneka kuda lumping. Latihan yang di selenggarakan di ruang sederhana, sangat menyentuh hati saya, anak-anak yang menari tersebut merupakan anak-anak yang bermain sepak bola sama saya pada waktu sore, mereka piawai menari. Alunan gamelan, gong dan drum, perpaduan musik yang harmonis membuat diri saya merinding, saya takjub melihat tarian tersebut.Saya sangat senang kesenian tersebut masih terus dilestarikan di desa tersebut. Kadang-kadang Saya memberikan jempol dan senyuman kepada adik-adik cowok itu (mereka bernama riski, bayu, wisnu dkk) di tengah mereka latihan.dan mereka membalas dengan senyum kecil mereka.

 

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, agak berat sebenarnya meninggalakan desa ini. Dengan kenangan yang ada di dalamnya, penghuni posko ada mas anam, mas pandu, mas Bangka dkk yang gokil-gokil,anak-anak dengan kepolosan mereka, penduduk yang ramah-ramah, dan teman-teman satu tim. Rasa terharu, sedih, senang, bahagia, bercampur menjadi satu. Terimakasih untuk 5 hari yang berarti dan tidak akan pernah terlupakan. Yah… memang benar hidup ini terasa hambar jika kita tidak mau berbagi dengan orang lain.^____^

 



IYV, WE CARE WE SHARE

 

grüß,

devi yanti

e-mail: schoneschone@gmail.com

 

 

Volunteer Story: Dimas Jagad Gumelar

 

It all began with a short message service or commonly known as sms, notified myself to check what’s news that I got. Surprisingly, It’s a calling for voluntary services from someone who I did not know best. Because I really curious with the activities and with no longer thinking all of the consequences and challenges ahead, I made a call and told to the person that I want to join-which I realize after-that is Mbak Dini Hajarrahmah, a girl, an UNDIP student and also a social entreprenuers, who I met in an international conference (ASHOKA)  months ago! Such a blessed that she still remind of people who ever she met including me. :)

 

In very short of time (only one day!), we have to be ready, teaches English to locals guide in Kinahrejo village, Yogyakarta and train the trainer about how to teach English lessons and made a forum discussions regularly at LATARE LARE in Tlatar, Central Java. The first wave start from 19-23 January 2011.

The 1st wave consists of 11 people, each comes from diverse backgrounds and universities! From Economics to Chemical Engineering faculty, from UNDIP to UI students and from a Dancer to a part-timer TPA Teacher (Taman Pendidikan Al-Quran)! What a great example of team diversity, it soo Indonesia. :D

The fist wave volunteers are :

Desita Sularso, English Linguistics 2007, UNDIP (Head of Volunteers).

Nugroho Arif Widodo, Electrical Engineering 2008, UNDIP.

Abdul Majid, Fisheries and Marine Sciences 2009, UNDIP.

Adjeng Siwindari, Chemical Engineering 2010, UNDIP.

Mahardika Talenta, English Linguistics 2009, UNDIP

Dimas Jagad Gumelar, (myself ^^) Economics and Development Studies 2009, UNDIP

Safrini Malahayati, Historical Sciences 2005, UI.

Arief, Law School 2009, UNNES.

Faela Sufa, International Relations 2009, UGM.

and 2 other students that I forget their names ><” (duh!)

 

It was a very long trip and exhausting, just to reach Kinahrejo village. When normally only 3,5 hours, we had to spent more than 5 hours because of cold-lava or ‘lahar dingin’ flooded the main road between Magelang – Sleman. But finally we made it, and welcomed by the warmness of the Al-Qodir people, which served us hot teas and yummy noodles soup! :9

And now the team are complete, Safrini Malahayati from Universitas Indonesia and Faela Sufa from Universitas Diponegoro came just a few minutes after us. :)But, only Safrini or Safa, who joined us that time. Faela joined in the third day because still have something to be done in her campus.

 

Because we start our teaching at 7:00 PM everyday. From the sunrise to sunset, we don’t have exact activities to do. But, don’t worry we already prepare in the night before. So, our first activities was finding meals for all of us in a local grocery or ‘warung’ near base camp and only took 5 minutes walks. We stop there, and greets the owner-an old man-then ordered hot teas. Luckily, we got meals from a pitchwomen or ‘pedagang keliling’ like nasi kuning, nasi ayam, rames etc. with amazing price! Each only Rp. 1000!! So, we grab almost made the stock lasts. (We really hungry you know) haha lol :P

After done with the morning supper, we continue our activities with going to the ‘Kawasan Wisata Kinahrejo’ which approximately 4 km from where we now. With no transportation from Al-Qodir, (actually we’re not asking them and didn’t want to make them troublesome because of us, hehe) we took a walks along the way up to the mountain!

Minutes after seconds, hundreds steps after one, we felt bit tired and decide to stop a truck pass by! We know we can’t make it to the destination place, because the locals told us it’s too far if we going there only by walk! (It can be a day of walking, hey nak!) ><’ So, we stopped the truck and….(just see the pictures below) :D

 

Dimas Gumelar, Mahasiswa FE UNDIP.

http://dimasgumelar.wordpress.com

 

 

Volunteer Story: Abdul Majid

Catatan Volunteer Wave 1:

Abdul Majid, Mahasiswa Perikanan UNDIP.

Abdul Majid, Volunteer Wave 1

 

SENYUMAN HARAPAN ANAK MERAPI

Sobatku, pembaca yang budiman inilah sekelumit cerita dari saya. Tolong baca sampai selesai yaahh….hehehehe,,,^_^

Pada hari Kamis malam sekitar jam delapan kami sekelompok tim bernama ‘Indonesian Youth Volunteer’ atau disingkat tim IYV, tiba di Posko Relawan yang dikenal dengan sebutan Posko Al-Qodir di wilayah Plosokerep Kelurahan Umbulharjo, Sleman. Tim IYV gelombang I beranggotakan Dessy ( dikenal dg Bu Dhek) selaku Head Volunteer, Tata, Adjeng, Shafa, Arif, Agung, Arif Kus, Fela, Hit, dan saya sendiri Majid. Kedatangan kami di Posko Al-Qodir langsung disambut oleh koordinator posko yaitu Pak Wawan. Kami pun berbincang-bincang dengan beliau sebagai bentuk dari prosesi ramah-tamah. Sesaat kemudian, kami diperkenalkan dengan koordinator remaja dari posko hunian sementara korban erupsi Merapi, yang bernama Muryanti, biasa dipanggil mbak MUR. Mbak Mur ini ternyata masih ada ikatan darah dengan juru kunci gunung Merapi, Mbah Maridjan. Ia mempunyai pribadi yang peduli terhadap teman sebayanya, bijaksana, dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidup serta ia yakin akan harapan masa depan yang cerah. Mungkin kata khas dari Mbah Maridjan layak disematkan pada dia, yaitu Rosa, Rosa (baca: Roso),,,,hehehe ^_^

Setelah acara pekenalan dan ramah-tamah dengan Pak Wawan dan mbak Mur selesai, kami langsung briefing intern untuk program dan randon kegiatan yang akan kami lakukan di posko kemanusiaan untuk warga Kinahrejo korban erupsi Merapi. Misi utama kami disini yaitu “teaching English” bagi anak / remaja Kinahrejo sebagai persiapan menjadi pemandu wisata bagi turis. Hal ini disebabkan mulai tanggal 6 Februari 2011, Kinahrejo akan diresmikan menjadi kampung wisata erupsi Merapi, yang sejauh ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Sehingga harapan kami program ini dapat mencetak pemandu wisata bagi turis, dari anak Kinahrejo sendiri untuk kebaikan dan kesejahteraan mereka juga,,,,,bilang Amien,,,gituu donk sobat….hihihi *_*

Sehari kemudian pada Jumat malam sekitar jam setengah delapan, kami di Posko menanti kedatangan mbak Mur dkk untuk belajar Bahasa Inggris bersama kami. Akan tetapi, yang datang baru mbak Mur. Akhirnya kami inisiatif untuk menjemput “door to door” teman-teman mbak Mur yang mau belajar Bahasa Inggris. Kami tahu letak shelter (hunian sementara) mereka berkat bantuan mbak Mur. Sekitar pukul 20.00 WIB mbak Mur dkk sudah berkumpul di posko Al-Qodir sebanyak 9 orang yang siap belajar Bahasa Inggris. Sebelum memulai belajar, kami melakukan prosesi perkenalan dan ramah-tamah agar bisa lebih kenal dan lebih akrab dengan mereka.

Sobat tahu gak sih….??? Dalam proses belajar Bahasa Inggris ini, calon pemandu wisata yang saya tangani bernama Fembriyanto biasa dipanggil Fembri. Ia adalah anak semata wayang dan merupakan remaja dusun Kinahrejo yang putus sekolah SMA akibat keterbatasan biaya, sebab harta benda milik keluarganya telah lenyap dilalap oleh erupsi lahar panas Merapi. Sekarang ia berprofesi sebagai tukang ojek yang mengantarkan pengunjung wisata erupsi Merapi untuk berkeliling Kinahrejo dan melihat area bekas rumah mbah Maridjan. Fembri termasuk tipekal anak yang antusias belajar terutama dalam bahasa Inggris, tetapi karena keterbatasan waktu dan sarana membuat Ia terhambat. Selama dua hari saya mendampingi Fembri belajar, ternyata tercipta chemistry yang bagus yang membuat Fembri lebih rileks dan antusias dalam belajar meskipun kadang Ia sering lupa vocab dari kata tertentu,,,,hehehe….^_*.  Namun antusias itu tetap menyala, sampai-sampai Ia bertutur kalau ingin punya kamus, tetapi ia bingung karena pendapatan dari ojeknya hanya cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari orang tuanya. Oleh karena itu bagi sobatku, pembaca yang budiman sekalian….silahkan barangkali mau mendonasikan kamus atau mungkin tenaga dan pikiran lewat IYV ini, demi kebaikan Fembri-Fembri yang lain yang ada di Kinahrejo maupun Indonesia.

Sobatku semua,,,,,Akhirnya di penghujung cerita ini, kami tim IYV membuka tangan selebar-lebarnya apabila dari teman-teman ada yang ingin membantu saudara-saudara kita namun tekendala oleh hal transport atau akomodasi atau konsumsi, karena disini kami menjamin semuanya itu secara free. Namun kami juga tidak menutup kemungkinan apabila dari sobatku ada yang ingin mendonasikan uang atau buku-buku pelajaran dan kamus. Kami berani jamin tidak akan rugi apabila sobatku semua gabung dengan tim IYV karena akan bisa berbagi dan juga bisa menikmati keelokan Merapi secara langsung. Selain itu kita akan mendapat teman baru diluar kampus kita,,,,karena tim IYV ini, selain dari UNDIP ada juga yang dari UNNES, UGM, dan UI juga loh…..!!? so don’t worry…..join with us…because IYV always care and share…^^

 

Volunteer Story: Faelasufa

Indonesian Youth Volunteer: We Share and yes.. We Care!

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk ikut volunteering dengan IYV. Sayang, dari empat hari acara saya hanya dapat ikut dua hari saja. Hari Kamis-Jumat saya harus menyelesaikan urusan proposal WorldMUN (yang ternyata ribet juga) dahulu. Jadi, saya baru berkesempatan menyusul ke desa Kinahrejo di hari Sabtunya.

Saya berangkat dengan Hid (teman dari Undip) dan dengan Mas Usman. Gila saja ya, ternyata tracking jalan ke desa itu sangat cocok untuk rally, tapi tidak cocok untuk motor bebek biasa. Apalagi kalau pengendaranya amatiran dan suka miris seperti saya. Terlebih kondisi saat itu tanah becek setelah hujan. Setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan, di Sore hari itu kami tiba juga di desa Kinahrejo. Di sana sudah ada sekitar 100 shelter yang dibangun (katanya oleh bantuan Arifin Panigoro, bosnya Medco) rapi untuk penduduk korban bencana Merapi yang kehilangan tempat tinggal mereka. Ketika melihatnya, hati saya miris. Batin saya menggumam tipis, memang benar adanya ungkapan lama bahwa ‘Tak miliki apa-apa, (seharusnya) tidak hilang apa-apa”. Semua adalah milikNya yang dapat diambil kapan saja.

Fokus dari IYV sendiri adalah untuk mengajar bahasa Inggris anak-anak di sana. Saya sendiri, sore itu berkesempatan untuk mengajar Udin, Aldi dan Mbak Mur. Udin yang saya ajar pertama kali, adalah seorang tamatan SMP yang urung melanjutkan ke SMA. Saat saya bertanya apa cita-citanya, dia bingung dan berdiam cukup lama. Hingga akhirnya dia bilang, ingin menjadi pemain sepak bola. Ya sudah, saya tuliskan di sampul bukunya, kalimat yang intinya dia akan menjadi pemain sepak bola. Lagi, saya bertanya padanya. Bukan tentang cita-cita. Kali ini tentang alasan, mengapa dia memutuskan untuk tidak melanjutkan ke SMA. Apa dia tidak ingin sekolah? Malu-malu dengan merunduk dia lalu menjawab juga, bahwa teman-temannya pun melakukan hal yang sama hingga dia mengikuti mereka. Oh, Astaga.

Lalu saya bertemu dengan Aldi. Ah! Saya langsung teringat adik saya Rafly ketika melihatnya untuk kali pertama. Dia berkulit putih dan sedikit gembul dengan pipi yang minta dicubit. Saat saya tanya, dia ternyata memang seumuran Rafly, meski lebih tua satu-dua tahun. Tapi si Aldi, lagi-lagi, juga putus sekolah. Dia bahkan hanya bertahan lima bulan di bangku SMP. Saya miris, harus pura-pura masih tersenyum padahal hati saya membatin tragis. Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Aldi? Saya teringat masa-masa saya SMP, saat saya masih naif dan bebas bermimpi sebebas-bebasnya bebas dan tanpa menimbang-nimbang kerealitasan dan kemungkinan mimpi itu dapat terwujud atau sudah mengerti perasaan takut kecewa. Beruntunglah saya yang memiliki orang tua yang begitu mendukung setiap impian saya, tanpa mencela. Beruntunglah saya yang memiliki seorang kakak yang juga sama-sama pemimpi gila.

Saya kemudian melepaskan pin UGM yang menempel di ransel saya, lalu menempelkannya pada jaket berhoody yang dikenakan Aldi. Saya bilang padanya, enam tahun lagi dia akan berkuliah di sana. Maka dari itu, kalau dia mau dia harus berusaha! Saya tahu dia mampu. Tapi hanya bila dia berani bermimpi dan mau untuk mewujudkannya.

Terakhir, saya kemudian bertemu dengan mbak Mur. Sebenarnya, teman saya yang mendapat jatah mengajar Mbak Mur ini. Tapi telinga saya, secara tidak sengaja, mendengarkan Mbak Mur yang sedang berbicara dengan bahasa Inggris. Bagus dan cukup lancar. Membuat mata saya tergoda untuk melirik ke dalam, dan mencari sumber suara. Saya kaget juga, secara dari tadi saya hanya menemukan anak didik yang sepatah-patah apabila berbicara bahasa Inggris. Saya tidak dapat mengurungkan niat untuk nimbrung mereka berdua.

Melihat Mbak Mur, terutama matanya, saya menemukan kilatan cahaya yang menyala. Dia punya mimpi, saya tahu itu. Dia bercerita, bahwa sebelum bencana merapi datang dia sudah berencana untuk mengikuti kejar paket C. Fyi, dia lulusan SMP atau SMA begitu, saya lupa. Dan dia ingin sekali kuliah, sayang Ayahnya memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan dia tentang pendidikan dan pekerjaan.

Sehari-hari Mbak Mur bekerja menjadi tour guide di desa Kinahrejo. Dia juga membuat kaos-kaos yang bergambar desa Kinahrejo. Dan dia juga seorang penyanyi. Yup, suaranya bagus, kami sempat mendengarnya bernyanyi. Singkatnya, Mbak Mur ini eksis sekali di Kinahrejo.

Balik lagi ke mengajar. Setiap kali dia mendengar kata-kata baru, tangannya selalu sigap mencatat. Dia punya mimpi yang patut untuk diperjuangkan. Saya, diam-diam berjanji juga untuk membantunya mewujudkan mimpi-mimpi itu. Saya percaya, saat kamu bisa memimpikannya maka kamu juga pasti akan bisa mewujudkannya.

Faelasufa, Volunteer Wave 1

When you can dream it, then you can do it.

Love,

Fela.

http://faelasufa.wordpress.com

Volunteer Story: Agung Jati N

Catatan Volunteer Wave 1:

Agung Jati N, Mahasiswa Perikanan UNDIP.

 

Hari 1, Para volunteer berangkat dari GSG ke Sleman. Pukul 20.00 kami baru sampai di posko Al-Qodir. Perjalanan berlangsung lama karena banjir yang melanda daerah magelang sehingga kedatangan kami terlambat, namun hal itu tidak menjadi masalah karena pada malam itu para calon guide juga belum siap untuk belajar, jadi kami para volunteer menggunakan waktu itu untuk beristirahat sejenak. Kami dikenalkan dengan mbak Mur, yaitu seorang pengungsi yang masih muda dan selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di posko. Tak banyak aktivitas pada malam pertama itu, Kami berinisiatif membuat acara kumpul bareng antar volunteer untuk mengenalkan diri masing-masing agar bisa lebih dekat dan mengenal satu sama lainnya.

Ternyata temen-temen IYV gelombang 1 sungguh sangat asyik dan gokil abis, dan mereka juga merupakan orang-orang hebat. Mereka memiliki pengalaman-pengalaman hidup yang sangat mengesankan. Setelah saling berbagi pengalaman dan menceritakan diri masing-masing kami menjadi lebih akrab dan serasa menjadi keluarga. Kami bercengkrama sampai larut malam dan akhirnya tidur lelap sekitar jam 1 pagi.

Hari 2, Setelah bangun tidur kami mulai mengawali aktifitas dengan jalan-jalan pagi mengelilingi lingkungan pengungsi, namun jangkauan kami melebar sampai ke tempat yang lumayan jauh dengan posko. Tadinya kami berencana pergi ke desa Kinahrejo dengan berjalan kaki, dan ternyata jarak dari posko sangat jauh, lalu kami menumpang sebuah truk pengangkut material. Sungguh pengalaman yang seru, namun kami tidak sampai ke desa kinahrejo karena truk itu ternyata tidak menuju ke kinahrejo. Dan bisa dibilang kami nyasar, tanpa arah dan tujuan yang jelas kami terus berjalan menuju gunung merapi. Namun kami tak kunjung sampai ke gunung tersebut, jaraknya masih sangat jauh dan kami sudah kelelahan. Akhirnya kami beristirahat sejenak kemudian kembali ke posko dengan menyewa sebuah mobil milik seorang pedagang di lereng gunung merapi.

 

Sesampainya di posko kami langsung beristirahat sembari beramah tamah dengan teman-teman relawan dari daerah lain di posko. Malam harinya kegiatan belajar mengajar dimulai. Pertamakali sangat sulit mengajak para calon guide untuk belajar bahasa Inggris bersama. Kami berusaha mengajak mereka secara door to door, yaitu menjemput mereka langsung ke rumah. Dan akhirnya mereka bersedia untuk belajar bersama kami. Malam itu ada sekitar 10 calon guide yang datang. Itu sudah bisa dibilang bagus, karena kata pihak posko yang baru di konfirmasi sebelumnya hanya 6 orang. Kegiatan belajar bahasa inggris malam itu berjalan dengan lancar dan para calon guide mulai akrab dengan kami dengan metode belajar secara personal. Saya berkesempatan mengajar calon guide yang bernama Dani. Sebelumnya dia sudah pernah mempelajari bahasa inggris, tapi karena jarang digunakan dan sudah tidak melanjutkan sekolah dia jadi lupa dengan bahasa inggris. Saya pun membantu dia dengan dengan mengajar beberapa vocab yang sekiranya berguna bagi para guide. Dan setelah itu langsung mengikuti materi pada modul. Setelah selesai kegiatan belajar bersama calon guide kami pun beristirahat dan tidur pulas.

 

Hari 3, pagi hari kami diajak pihak posko untuk jalan-jalan ke tempat proyek wiata yaitu desa Kinahrejo dengan menggunakan mobil. Di sana kami berjalan-jalan sepuasnya dan sangat menikmati keindahan Gunung Merapi. Saat-saat itu sungguh sangat indah dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah puas jalan-jalan kami membantu para pekerja proyek untuk mencangkul tanah guna membuat panggung. Beberapa waktu kemudian kami dijemput untuk kembali ke posko.

Sore hari para volunteer yang menangani calon guide cowok ada yang mulai mengajar karena malam harinya para calon guide cowok harus menghadiri tahlilan di rumah salah seorang warga pengungsi. Saat itu di luar dugaan, para calon guide bertambah banyak dang mereka mulai mengumbar aura semangat untuk belajar bersama kami. Calon guide yang saya pegang yaitu Dani juga terlihat sangat antusias dan semangat. Saya pun senang dengan hal itu dan saya terus memberi motivasi kepada Dani untuk terus belajar.

Setelah kegiatan belajar selesai kami mendapat kabar yang sangat mengejutkan. Salah seorang teman kami yaitu Ajeng mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor pinjaman setelah mengantarkan Tata ke terminal bis untuk pulang. Malam itu juga merupakan pengalaman tak terlupakan dimana kami semua kebingungan untuk mencari orang yang bisa mengobati Ajeng, karena tulang lututnya geser dan semalaman dia berteriak kesakitan. Dengan bantuan pihak posko Al-qodir akhirnya Ajeng bisa di obati.

Hari 4, pagi hari kami dikejutkan dengan dengan anak2 kecil para pengugsin yang mengajak jalan2. Hal itu tidak direncanakan sebelumnya, kami pun kalang kabut menghadapi tingkah polah mereka yang lucu dan menggemaskan. Bahkan beberapa dari mereka ada yang sempat menangis karena hal2 yang nggak jelas. Pokoknya lucu dan aneh2.

Siangnya kami beranjak dari posko dan menuju ke Tlatar untuk mengikuti agenda yang sudah direncanakan sebelumnya. Setelah itu kami pulang ke semarang.

 

Sebenarnya cerita tersebut belum menyangkut semua pengalaman yang saya dapatkan saat menjadi volunteer. Masih banyak hal2 yang seru dan asyik, namun saya sudah lelah untuk mengetiknya. Hehehe. . .Oke deh, segitu aja ya mbak dari saya. . .Terimakasih Buanyak!!

 

Indonesian Youth Volunteer: Yang Muda Yang Beraksi!

This slideshow requires JavaScript.

 

Salam Volunteering,

 

Ini bermula dari tahun 2010 lalu saat Saya dan kawan-kawan di kampus FIB UNDIP mulai gencar melakukan Community Service di Semarang dan sekitarnya di berbagai hal seperti mengajar anak autis & down syndrom, mengajar anak-anak di panti asuhan, memberikan sumbangan buku gratis untuk anak-anak di sekolah yang memprihatinkan, melakukan aksi saat hari Lingkungan, dan banyak lagi.

 

Terakhir yang kami lakukan bersama-sama saat terjadi letusan hebat Gunung Merapi pada sekitar bulan Oktober 2010 lalu, saya dan kawan-kawan secara independen turun ke beberapa daerah pengungsian Merapi setelah mengumpulkan dana di jalan, kampus, serta seminar sehingga terkumpul sekitar Rp 20.000.000,-

 

Kami menyumbangkan barang-barang serta uang yang mereka butuhkan di beberapa camp seperti: Sawangan, Tlatar, Blabak, Metroyudan, Sawitan, Sleman, Magelang, dan lain-lain. Secara kontinyu kami turun kesana hingga kunjungan kami tidak hanya sekali kesana.

 

Pada Januari tahun ini, berita itu pun datang kepada kami ketika pihak pengungsian membutuhkan tenaga kami untuk mengajar Bahasa Inggris bagi calon guide di kawasan wisata Kinahrejo dan juga untuk melakukan mental healing bagi adik-adik di wilayah pengungsian. Saya masih ingat apa yang dikatakan oleh Mas Didik, koordinator Camp Tlatar: “Merapi telah membuat luka yang cukup mendalam bagi mereka sehingga penyembuhannya pun lama. Setahun bahkan belum cukup.” Dari statement itulah akhirnya kami mencoba untuk turun lagi ke Merapi dengan lebih terorganisir. Dari situlah akhirnya saya, Desita Anggraeni, dan Fany Ayuningtyas yang kebetulan berkesempatan survey kesana berkomitmen untuk membentuk sebuah komunitas yang nantinya akan membuka lebih banyak kesempatan bagi anak muda untuk melakukan Volunteering.

 

Kami berpikir, apa yang kami lakukan bersama kawan-kawan semenjak Oktober lalu ini harus dilakukan juga oleh banyak anak muda di Indonesia karena butuh banyak tenaga, donasi, serta ide untuk membangun kembali masyarakat di Merapi yang telah rapuh sekali. Atas dasar itulah, kami memberanikan diri untuk membuat komunitas ini menjadi lebih besar dan diberi nama: “Indonesian Youth Volunteer”.

 

Saat ini, memang fokus yang kami lakukan masih di program pembangunan kembali mental masyarakat di Merapi serta memberi mereka skill berupa bahasa inggris terapan dan memberi motivasi bagi mereka untuk terus semangat menjalani hidupnya. Kami menetapkan area Volunteering kami ada di Kinahrejo, Sleman serta di Tlatar, Magelang.

 

Ke depannya, komunitas ini akan menerima masukan dan juga permintaan dari teman-teman dimana saja jika membutuhkan tenaga Volunteer anak muda yang secara sukarela dan cekatan akan membantu proyek-proyek untuk perubahan sosial yang menjadi mimpi bersama Indonesia.

 

Harapannya, dengan menumbuhkan jiwa-jiwa Volunteer yang berani, inovatif, dan cekatan ini akan menciptakan generasi-generasi anak muda pemimpin bangsa yang mengenal permasalahan sosial di negri ini mulai dari permukaan dan menjadi subjek atau tokoh utama untuk ikut menjadi solusi bagi masalah-masalah yang ada tersebut.

 

Isu-isu sosial, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan, HAM, budaya, dan sejenisnya akan menjadi fokus kami ke depannya. Kami juga berencana ingin memiliki Partner bagi komunitas kami untuk mendukung dari segi financial, publikasi, dan lain-lain. Selain partner, kami juga akan membuka kesempatan bagi individu, grup, maupun perusahaan yang ingin menjadi Donatur dari setiap proyek-proyek Indonesian Youth Volunteer.

 

Karena kami masih sangat awal untuk memulai pergerakan ini, untuk itu kami sangat menerima masukan teman-teman semua untuk kemajuan komunitas ini. Semoga Indonesian Youth Volunteer dapat menjadi salah satu solusi dari sekian banyak permasalahan yang muncul di masyarakat.

 

Bukan saatnya lagi menyalahkan pemerintah dengan aksi atau demo tanpa melakukan aksi nyata untuk masyarakat, bukan saatnya lagi hanya berkomentar sinis ketika melihat tayangan di televisi tentang isu sosial yang muncul, bukan saatnya lagi pemuda hanya berdiam diri tanpa mengenal masalah apa yang terjadi di negrinya, bukan saatnya lagi pemuda dianggap tidak bisa apa-apa, sekarang saatnya kita!

 

Saatnya kita mulai melakukan aksi nyata untuk melakukan perubahan dan mencoba menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Jika kita sudah siap dan terbiasa dengan kondisi seperti ini dari sekarang, bukan hal yang mustahil, saatnya kita memimpin negri ini nanti di 10 tahun yang akan datang, Indonesia akan menjadi negri impian setiap orang! Karena kita pemuda, kitalah pemimpin bangsa saat ini, besok, dan seterusnya!

 

We Care, We Share!

Dini Hajarrahmah

Representative of Indonesian Youth Volunteer

indonesianyouthvolunteer@hotmail.com

https://iyouthvolunteer.wordpress.com